Dua Belas Tahun, dan Kita Masih Bertanya: Untuk Apa?
Beberapa waktu lalu, saya menemukan kembali sebuah puisi lama yang saya tulis pada Desember 2019. Tentang dua belas tahun duduk di bangku sekolah. Tentang pagi yang selalu dimulai dengan tas di punggung, buku ditata rapi, pensil dirapikan, bukan karena cinta pada keteraturan, tetapi karena takut kehilangan. Kehilangan catatan berarti masalah. Kehilangan alat tulis berarti teguran. Sejak awal, saya belajar bahwa yang paling penting bukan memahami, melainkan memastikan semuanya tampak lengkap.
Setiap pagi saya pergi, setiap sore saya pulang, demi sesuatu yang disebut “informasi yang dibutuhkan”. Setidaknya begitu katanya. Tapi semakin lama, saya justru sering bertanya dalam hati: ya nggak sih? Benarkah semua ini memang dibutuhkan? Atau hanya sekadar rutinitas yang diwariskan tanpa pernah diuji ulang?
Saya pernah mencoba mencari pembenarannya. Bertanya pada mereka yang disebut “Guru”. Jawabannya selalu rapi, terdengar logis, dan nyaris selalu sama: semua ini untuk persiapan. Untuk ujian. Untuk nanti. Untuk kelak. Seolah hidup adalah lorong panjang menuju sebuah hari yang entah kapan datangnya.
Saya masih ingat satu pertanyaan sederhana yang pernah terlintas: untuk apa saya harus menghafal rumus menghitung derasnya hujan? Jawabannya tidak pernah benar-benar menjawab rasa ingin tahu saya. Lagi-lagi: untuk ujian. Bukan untuk memahami dunia, bukan untuk membaca realitas, hanya untuk lulus dari satu tahap ke tahap berikutnya.
Dua belas tahun berlalu. Lucunya, selama itu pula saya tidak pernah benar-benar diajari bagaimana menentukan arah. Tidak pernah diajak memahami bagaimana memilih jalan setelah semua tahapan itu selesai. Kita diajari menghafal, mengulang, dan patuh, tetapi jarang diajak berdialog tentang makna dari semua itu.
Puisi ini tidak sedang menolak pendidikan, juga tidak sedang menertawakan guru. Ia lebih seperti catatan kecil dari seseorang yang menyadari, terlambat atau tidak, bahwa sistem sering kali sibuk menyiapkan kita untuk ujian, tetapi lupa menyiapkan kita untuk hidup. Bahwa terlalu banyak jawaban diberikan, tanpa pernah benar-benar merawat pertanyaan.
Dan mungkin, sampai hari ini, pertanyaan tentang arah itu masih ada. Masih menggantung. Masih belum selesai. Tapi setidaknya kini saya tahu: kebingungan itu bukan kegagalan personal semata. Bisa jadi, ia adalah produk dari sebuah proses panjang yang terlalu yakin bahwa semua orang harus berjalan di jalur yang sama.
Barangkali kegamangan ini wajar. Bahkan perlu. Karena hidup memang tidak pernah sesederhana soal benar atau salah, lulus atau tidak lulus. Filsuf eksistensialis Søren Kierkegaard pernah menulis, “Life can only be understood backwards; but it must be lived forwards.” Hidup sering kali baru bisa dipahami setelah kita melaluinya, namun tetap harus dijalani tanpa peta yang benar-benar pasti.
(Søren Kierkegaard, Journals, 1843)
Pendidikan, pekerjaan, dan segala tahapan yang kita lewati sering kali terlalu fokus menyiapkan masa depan, tetapi lupa mengajak kita hadir di hari ini. Padahal, seperti yang diingatkan Viktor E. Frankl, seorang psikiater dan penyintas kamp konsentrasi, “Life is never made unbearable by circumstances, but only by lack of meaning and purpose.” Yang membuat hidup terasa berat bukan situasinya, melainkan ketika kita kehilangan makna.
(Viktor E. Frankl, Man’s Search for Meaning, 1946)
Mungkin itu sebabnya, setelah dua belas tahun belajar, kebingungan tentang arah masih tersisa. Bukan karena kita bodoh, tetapi karena terlalu jarang diajak bertanya: untuk apa semua ini? Albert Einstein pernah mengingatkan dengan sederhana, “Education is not the learning of facts, but the training of the mind to think.” Pendidikan seharusnya melatih kita berpikir, bukan sekadar menghafal.
(Albert Einstein, Ideas and Opinions, 1954)
Maka jika hari ini seseorang merasa ragu, merasa tertinggal, atau merasa belum tahu harus melangkah ke mana, barangkali itu bukan kegagalan. Bisa jadi, itu justru awal dari proses yang lebih jujur: belajar memaknai hidup dengan kesadaran sendiri, bukan sekadar menjalani apa yang sejak lama dianggap “seharusnya”.