The Urge of a Purpose
Dua, atau setidaknya satu tahun belakangan, rasanya nyaris mustahil tidak pernah mendengar nama Ferry Irwandi barang sayup-sayup.
Beliau bukan satu-satunya, dan bukan juga yang pertama, warga sipil yang resah dengan arah dan nasib negara tempat tinggalnya.
Beliau juga bukan satu-satunya, dan bukan yang pertama, warga sipil yang punya keistimewaan menyadari dan memahami krusialnya pendidikan menentukan arah dan nasib sebuah bangsa.
Ferry lalu berkomitmen tampil di ruang publik, dan mengupayakan—dengan sungguh-sungguh—warga sipil lainnya mendapatkan keistimewaan yang sama—dalam kapasitas yang beliau tekuni saat ini, salah satunya, yakni mengenyam studi di perguruan tinggi.
—
Pendidikan tinggi dalam lingkup formal, barangkali tidak banyak berubah sejak seabad silam. Ruang kelas fisik, buku teks, dan kurikulum pakem. Saklek. Kemudian, dalam periode waktu terbaru yang lebih singkat, lingkupnya meluas. Mediumnya berkembang. Opsi jadi lebih beragam dan spesifik. Pembelajaran jadi modular alih-alih linear. Multidisiplin dimungkinkan.
Batas ruang, waktu, dan individual dibebaskan. Tapi buku teks masih sama, dan kurikulum terlambat beradaptasi.
Karenanya, selepas wajib belajar dua belas tahun, pilihan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi, bagi banyak sudut pandang pragmatis, tidak lagi terlihat sebagai sebuah keharusan.
"Kalau hasil akhir dari pelajaran adalah memenuhi kebutuhan industri, ada banyak jalan selain universitas atau perguruan tinggi."
Keyakinan ini jadi salah kaprah hingga tingkatan pendidikan dasar. Pelajaran tertentu, seperti ilmu-ilmu eksakta dasar, diremehkan lantaran tidak terasalangsung fungsi praktisnya di keseharian, atau pekerjaan. Tentu, menimbang fakta, sering tidakdisertakannya juga contoh-contoh konkrit yang relevan.
“Tidak apa-apa (kalau tidak menguasai pelajaran), asal bisa bekerja nantinya (setelah lulus),” katanya.
—
Dalam obrolan bersama Pak Gita Wirjawan, Pak Chatib Basri mengutip, “lulus adalah konsekuensi dari sekolah.” Maka demikian halnya, bisa bekerja setelah lulus, juga adalah konsekuensi, bukan tujuan pun alasan.
"Sekolah (atau kuliah) tidak menjamin sukses, tapi memperbesar peluang atas kualitas hidup yang lebih baik," sahut Ferry menepis benak orang banyak, tegas tapi diplomatis.
Couldn’t agree more. Tapi, sampai batas tertentu, peningkatan kualitas hidup terdengar sama seperti mendapatkan predikat profesi bergengsi, atau punya rumah dan mobil bagus.
Konsekuensi, dengan diksi yang lebih filosofis.
Lalu, “kenapa kita sekolah?” Pak Chatib Basri tanya lagi.
Atau pertanyaan versi saya, “kenapa (perlu) kuliah lagi?”
—
Saya termasuk populasi umum yang (akhirnya) terikat motif kepatutan. Kuliah bukan karena murni hasrat keingintahuan. Dan dengan lanskap terkini, saya turut meyakini, ilmu (masih) bisa diperoleh tanpa intervensi langsung institusi formal (universitas). Mengesampingkan (semakin) mahalnya kuliah atau sulitnya akses dan infrastruktur, saya yakin, beliau-beliau akan setuju.
Saya kelihatan kelewat percaya diri meski tengah bimbang dan tersesat. Pak Chatib Basri melihat itu dan memberikan sedikit penerangan. Beliau mencoba memvalidasi keyakinan saya, kalau “text book itu sama di mana-mana. Yang membedakan tiap sekolah adalah lingkungannya.”
Beliau tidak membicarakan arsitektur megah, ruang kelas dingin, laboratorium dengan perkakas lengkap, atau taman sekolah yang rindang. Beliau mengisyaratkan sebuah ekosistem.
“Memanfaatkan intelektualitas tempat (kampus) itu,” ujarnya. Budaya atau norma
belajar-mengajar yang lestari berkat sistem yang dirancang sedemikian rupa.
“Kalau begitu, haruskah kita ke luar negeri?”
Ferry sudah menyanggah itu lebih dulu. “Nggak masalah mau kuliah di mana aja, yang penting kemauan belajarnya.” Artinya, sistem cuman alat. Sekolah, perguruan tinggi, adalah alat atau sarana “untuk melatih berpikir sistematis,” Pak Chatib Basri menyimpulkan.
Lagipula, butuh modal tidak sedikit untuk menempuh studi di kampus mancanegara. Certainly, there’s a lot of scholarship programs, yet it must really be a good reason to fight for.
Even for an exception, as far as I know, he’s neither having any scholarship nor studying abroad, getting higher education is a good and mandatory reason for dokter Tirta, “meluruskan pola pikir.” Pola pikir yang hanya bisa dibentuk atau diperbaiki dengan bantuan pendekatan akademis.
Kontribusi sepenting apa yang membutuhkan pola pikir secermat itu?
—
“What do we live for, if it’s not to make life less difficult for each other?”
George Eliot mengingatkan saya. Lalu dua ratus tahun kemudian, lewat kacamata akademis, Ferry menggaris-bawahi renungan George sebagai mandatory purpose orang-orang berpendidikan: berkontribusi pada masyarakat dan lingkungan di sekitarnya.
Mungkin saya mikir kejauhan. Namun, melihat sosok seperti Ferry (praktisi ekonomi dan kandidat PhD), atau tokoh populer alternatif seperti Adam Adenan dan Ildo Hasman (personil Perunggu, eks petinggi perusahaan, dan alumni pendidikan tinggi), atau menengok praktisi populer lain tapi juga mengajar seperti Dian Sastro atau Riri Riza (yang belum lama ini lulus pendidikan doktoral); tak terhindarkan lagi, berhasil memantik saya.
Bukan—lebih tepatnya, belum—untuk bergegas melanjutkan pendidikan pascasarjana, tapi
merumuskan alasan genting, fundamental, dan sama tak terhindarkannya untuk kembali bersekolah.
Jika bukan memuaskan ambisi berprestasi akademis atau gengsi bekerja di korporasi multinasional, atau dorongan terlihat keren, maka sebaiknya—atau seharusnya—ada tujuan lain yang lebih besar dan mendasar, yang mensyaratkan pola pikir cermat dan sistematis.
Seberapa besar dan mendasar? Atau, apa yang begitu besar dan mendasar?