Tahun yang hambar.

Lagi-lagi sebuah tulisan menunda tulisan yang lebih penting untuk ditulis: buku saya sendiri. Tapi ya sudahlah. Terakhir kali saya menulis dengan cara seperti ini, beberapa bab justru lahir tanpa dipaksa. Semoga tulisan ini juga bekerja sebagai pemantik.

Sekalian, saya ingin merangkum tahun 2025 saya. Saya mencoba berpikir baik-baik, jujur tanpa romantisasi. Tahun seperti apa 2025 ini jika harus dideskripsikan seperti makanan.

Jawabannya sederhana: makanan saya adalah nasi putih.

Bukan metafora yang sok puitis, tapi benar-benar itu rasanya. Nasi putih: murah, netral, sering diremehkan, tapi jadi penyelamat.

Secara ekonomi, tahun ini tidak ramah. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Banyak hal naik, sedikit yang benar-benar bertambah. Masalah datang dari mana-mana, kadang bertumpuk tanpa aba-aba. Negara terasa gaduh tapi hasilnya tipis. Sekalinya ada kenaikan, itu pun kecil sekali sampai kita belajar bersyukur hanya karena tidak jatuh lebih dalam. Sendirian bosan tetapi sering kali hanya mampu menyendiri.

Di situ saya berada. Tidak berlebih, tidak juga tumbang. Bertahan.

Seperti nasi putih, tahun ini tidak menawarkan rasa yang kompleks. Tidak ada saus mewah, tidak ada garnish, tidak ada kejutan. Tapi ia mengenyangkan. Ia ada. Dan kadang, keberadaan itu saja sudah cukup untuk membuat hari berjalan sampai malam.

Saya belajar bahwa bertahan hidup tidak selalu berbentuk kemenangan besar. Kadang ia berbentuk rutinitas sederhana: makan, bekerja, pulang, tidur, ulangi. Kadang ia berbentuk memilih untuk tidak menyerah meski tidak tahu pasti ke mana arah berikutnya. Tidak heroik. Tidak Instagrammable. Tapi nyata.

Nasi putih juga mengajarkan satu hal lain: ia fleksibel. Mau dimakan dengan apa pun, dia mau. Dengan telur, tempe, sambal, atau bahkan hanya garam, dia tetap bekerja. Dan mungkin begitu juga saya tahun ini. Menyesuaikan diri, menurunkan ekspektasi, mengencangkan ikat pinggang, dan tetap jalan.

2025 bukan tahun kejayaan. Bukan tahun lompatan besar. Tapi ia bukan tahun kekalahan juga. Ia tahun bertahan. Tahun menahan ego. Tahun belajar menerima bahwa hidup kadang tidak perlu dibumbui apa-apa untuk tetap layak dijalani.

Dan jika harus memilih satu simbol, saya akan tetap memilih nasi putih. Karena murah bukan berarti rendah. Sederhana bukan berarti gagal. Dan bertahan, di tengah kondisi seperti ini, adalah bentuk keberhasilan yang paling jujur.

Selamat tahun baru. Semoga menemukan lauknya di 2026.

Kumpulan foto nasi putih saya sepanjang 2025. Gak penting tapi menarik.

Iyas Lawrence

An all-day observer and a part-time listener. A writer in progress.

Previous
Previous

Learning How to Live Again at 24

Next
Next

Doomscrolling Our Way to the Belle Époque